PALEMBANG, Palembangterkini.com 27 Juni 2026 – Senyum haru mengembang di wajah Alan Jaya Saputra saat menggenggam ijazah Magister Hukum (MH) usai prosesi wisuda. Kepalan tangannya yang terangkat seolah menjadi simbol kemenangan atas perjalanan panjang yang penuh perjuangan.
Bagi Alan, gelar akademik itu bukan sekadar selembar ijazah. Di baliknya tersimpan kisah tentang tekad, pengorbanan, dan mimpi besar seorang anak desa yang memilih melawan keterbatasan.
Berasal dari sebuah desa di wilayah Lubuklinggau, Alan meninggalkan kampung halamannya sejak duduk di bangku SMA untuk merantau ke Palembang. Jarak lebih dari 400 kilometer dari keluarga tidak pernah menyurutkan langkahnya. Berbekal doa kedua orang tua dan semangat yang tak pernah padam, ia menjalani kehidupan sebagai perantau demi mengejar pendidikan yang lebih baik.
Perjalanan itu tentu tidak mudah. Selama menempuh pendidikan, Alan harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan hingga berbagai persoalan yang datang silih berganti. Namun, setiap kesulitan justru menjadi alasan baginya untuk terus bertahan.
“Hari ini saya buktikan bahwa saya sampai di sini bukan karena paling pintar. Saya hanya orang yang paling bandel untuk tidak menyerah,” ujar Alan usai mengikuti prosesi wisuda.
Kalimat sederhana itu menggambarkan filosofi hidup yang selama ini ia pegang. Baginya, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi oleh keberanian untuk terus bangkit setiap kali menghadapi kegagalan.
Setelah menuntaskan pendidikan Magister Hukum, Alan tidak memandang gelar tersebut sebagai akhir perjalanan. Sebaliknya, ia menganggapnya sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdikan ilmu kepada masyarakat.
Ia berharap ilmu hukum yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk memperjuangkan keadilan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Sumatera Selatan.
“Palembang telah membesarkan saya sejak SMA hingga meraih gelar Magister Hukum. Sekarang giliran saya membesarkan nama Palembang dan Sumatera Selatan melalui pengabdian di bidang hukum,” tegasnya.
Kisah Alan Jaya Saputra menjadi pengingat bahwa asal-usul bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dari desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, ia membuktikan bahwa mimpi dapat diwujudkan dengan kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk tidak menyerah.
Perjalanan sembilan tahun sebagai perantau akhirnya berbuah manis. Namun bagi Alan, wisuda bukanlah garis akhir, melainkan langkah awal untuk mengabdi, menebar manfaat, dan menginspirasi generasi muda agar berani bermimpi setinggi mungkin, meski berasal dari pelosok desa. (Adi)


















