PALEMBANG, Palembangterkini.com – Di atas matras, tidak ada ruang untuk keraguan. Tatapan para atlet saling mengunci, langkah kaki mulai mencari celah, sementara tepuk tangan dan sorak penonton menggema memenuhi arena. Ketika peluit pertandingan berbunyi, bukan hanya teknik dan kekuatan yang dipertaruhkan, tetapi juga keberanian, disiplin, serta karakter seorang atlet.
Itulah suasana yang terasa dalam pembukaan Open Gubernur Cup Sambo dan Blind Sambo di Palembang. Atlet dari berbagai kabupaten dan kota, bahkan dari luar Sumatera Selatan, hadir membawa semangat yang sama: menguji hasil latihan, mengukur kemampuan, dan membuktikan diri di atas matras.
Namun, di balik setiap kemenangan dan kekalahan, tersimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan medali.
Setiap pertandingan menjadi ruang pembelajaran. Ada atlet yang harus mengakui keunggulan lawan, ada pula yang merayakan kemenangan dengan penuh rasa syukur. Keduanya sama-sama pulang membawa pengalaman yang akan membentuk kualitas diri sebagai seorang petarung sejati.
Saat membuka kejuaraan, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan bahwa olahraga Sambo tidak hanya mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sportivitas dan pembentukan karakter.
“Pada hari ini kita membuka Open Gubernur Cup olahraga bela diri Sambo dan Blind Sambo. Di dalam olahraga bela diri ini tertanam nilai-nilai sportivitas dan character building,” ujarnya.
Menurut Herman Deru, ukuran keberhasilan seorang atlet tidak boleh semata-mata diukur dari jumlah kemenangan yang diraih. Keberanian untuk tampil di arena, menghadapi tekanan, dan menunjukkan kemampuan terbaik merupakan bagian penting dalam proses pembentukan atlet berprestasi.
“Ukurannya bukan hanya menang atau kalah. Yang penting adalah bagaimana mereka berani bermain, berani tampil, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Saya bangga dengan anak-anak Sumatera Selatan,” katanya.
Ucapan itu seolah tergambar jelas sepanjang pertandingan berlangsung. Di atas matras, setiap gerakan lahir dari latihan panjang yang dijalani dengan penuh disiplin. Ketika satu teknik berhasil dijatuhkan, lawan segera bangkit. Ketika poin hilang, semangat bertanding tidak ikut runtuh.
Sambo memang mengajarkan lebih dari sekadar cara mengalahkan lawan. Olahraga ini melatih keberanian mengambil keputusan dalam hitungan detik, kemampuan mengendalikan emosi, serta menghormati siapa pun yang berdiri di seberang matras.
Bagi atlet muda, pengalaman bertanding menjadi bekal yang tidak bisa diperoleh hanya melalui latihan rutin. Kemenangan membangun rasa percaya diri, sementara kekalahan mengajarkan evaluasi, kerendahan hati, dan tekad untuk kembali berlatih lebih keras.
Karena itu, Herman Deru berharap pembinaan olahraga Sambo tidak berhenti pada penyelenggaraan kejuaraan, tetapi diperluas hingga menyentuh lingkungan pendidikan dan masyarakat.
“Pesan saya kepada Persambi Sumatera Selatan, olahraga ini agar dimasukkan ke sekolah-sekolah dan juga dikembangkan ke desa-desa,” tegasnya.
Menurutnya, sekolah dan desa merupakan tempat terbaik untuk menemukan bibit-bibit atlet berbakat. Dengan pembinaan yang dilakukan secara berjenjang, konsisten, dan berkesinambungan, akan semakin banyak generasi muda yang mengenal Sambo sekaligus memiliki kesempatan mengembangkan potensinya menuju level yang lebih tinggi.
Open Gubernur Cup Sambo dan Blind Sambo pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar kompetisi olahraga. Kejuaraan ini menghadirkan ruang bagi lahirnya mental juara, tempat karakter ditempa melalui perjuangan, kerja keras, dan sportivitas.
Sebab, ketika pertandingan usai dan sorak penonton mulai mereda, yang dibawa pulang para atlet bukan hanya medali atau catatan hasil pertandingan. Mereka membawa pengalaman, keberanian, serta keyakinan bahwa setiap langkah di atas matras adalah bagian dari perjalanan panjang menuju prestasi yang sesungguhnya. (Red)


















