Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Bawa Pempek hingga Jembatan Ampera ke Vietnam, Rudianto Widodo Presentasikan Potensi Ekonomi Palembang di Forum Internasional

Logo Media Palembang Terkini
87
×

Bawa Pempek hingga Jembatan Ampera ke Vietnam, Rudianto Widodo Presentasikan Potensi Ekonomi Palembang di Forum Internasional

Sebarkan artikel ini
Bawa Pempek hingga Jembatan Ampera ke Vietnam, Rudianto Widodo Presentasikan Potensi Ekonomi Palembang di Forum Internasional
Example 468x60

HANOI, Vietnam, Palembangterkini – Nama Palembang kembali muncul di panggung akademik internasional. Kali ini, potensi ekonomi dan kekayaan budaya Kota Pempek tersebut dibawa oleh Rudianto Widodo, S.Pd., M.Ag., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Raden Fatah Palembang (23/09/2026).

Rudianto mempresentasikan penelitian berjudul “Digital Public Relations Strategy of Palembang City Government in Promoting Local Economic Potential” dalam ASEAN International Sandbox Conference 2026 yang berlangsung di Vietnam National University (VNU), Hanoi, Vietnam.

Example 300x600

Penelitian itu membahas bagaimana strategi digital public relations Pemerintah Kota Palembang dapat digunakan untuk memperkenalkan sekaligus meningkatkan visibilitas berbagai potensi ekonomi lokal.

Yang menarik, Rudianto tidak membawa isu yang jauh dari daerah asalnya. Ia justru mengangkat kekuatan ekonomi dan identitas lokal Palembang sebagai objek kajian untuk melihat bagaimana komunikasi digital pemerintah dapat berperan dalam memperkenalkan potensi tersebut kepada publik.

Rudianto Widodo ke Vietnam

Sejumlah sektor menjadi bagian dari penelitian, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kuliner, ekonomi kreatif, produk budaya, pariwisata hingga berbagai kegiatan ekonomi perkotaan.

Berbagai ikon dan produk khas Palembang juga masuk dalam pembahasan. Mulai dari pempek, tekwan, model, pindang, songket, kain jumputan, lakuer, Jembatan Ampera, Sungai Musi hingga Pulau Kemaro.

Dari Palembang, Penelitian Dibawa ke Hanoi

Penelitian Rudianto menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif.

Data diperoleh melalui analisis terhadap konten digital resmi pemerintah, publikasi pemerintah, dokumen yang berkaitan dengan kebijakan serta pernyataan resmi yang terdokumentasi.

Analisis penelitian dilakukan melalui empat tahapan strategis public relations, yakni research, action and planning, communication,dan evaluation.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi digital pemerintah memiliki peran dalam membangun economic visibility.

Konsep tersebut berkaitan dengan bagaimana potensi ekonomi lokal dibuat lebih terlihat, dikenal, mudah diakses informasinya, dan mendapatkan perhatian publik melalui saluran komunikasi digital.

Strategi yang dikaji mencakup penyebaran informasi, promosi produk, komunikasi visual, storytelling, pembangunan citra institusi hingga city branding.

Namun, Rudianto tidak berhenti pada kesimpulan bahwa semakin tinggi visibilitas digital berarti semakin besar pula dampak ekonomi.

Ia justru memberikan catatan kritis.

Meningkatnya visibilitas digital belum dapat secara langsung dianggap sebagai peningkatan penjualan, pendapatan, lapangan kerja maupun investasi.

Penelitian tersebut belum menemukan bukti hubungan sebab-akibat secara langsung antara komunikasi digital pemerintah dengan peningkatan indikator ekonomi tersebut.

Artinya, keberhasilan sebuah kampanye digital tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak konten dilihat atau dibagikan masyarakat.

Tidak Cukup Hanya Viral

Dalam kerangka penelitian yang dipresentasikan, Rudianto menilai strategi digital public relations perlu bergerak lebih jauh dari sekadar membangun visibility.

Tahap berikutnya perlu diarahkan menuju engagement, feedback, market access hingga measurable outcomes.

Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah dapat mengembangkan analisis audiens, segmentasi konten, stakeholder-centered storytelling, kampanye kolaboratif, mekanisme umpan balik serta sistem evaluasi yang lebih terukur.

Dengan demikian, indikator seperti jumlah likes, followers, dan reach tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan komunikasi digital.

Yang juga perlu dilihat adalah bagaimana masyarakat merespons informasi, bagaimana keterlibatan terbentuk, apakah informasi membuka akses terhadap pasar, serta apakah terdapat hasil yang dapat diukur.

Dihadiri Pimpinan VNU dan Perwakilan Indonesia

Presentasi Rudianto berlangsung dalam rangkaian 3rd International Sandbox Conference yang mempertemukan akademisi dan sejumlah tokoh dari lingkungan pendidikan tinggi serta perwakilan Indonesia.

Pembukaan forum tersebut turut dihadiri Assoc. Prof. Dr. Phạm Bảo Sơn, Vice President Vietnam National University, Hanoi.

Phạm Bảo Sơn tercatat kembali dipercaya menjabat sebagai Vice President VNU untuk periode 2024-2029.

Hadir pula Dr. Nguyen Thi Hong Thuy, Head of the Faculty of Accounting and Auditing, VNU University of Economics and Business (UEB).

Perwakilan Indonesia juga hadir dalam forum tersebut. Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam, Adam Mulawarman Tugio, turut menghadiri kegiatan tersebut.

Di tengah forum yang dihadiri akademisi dan panelis tersebut, Rudianto membawa penelitian mengenai Palembang melalui perspektif ilmu komunikasi.

Ia mengangkat potensi ekonomi lokal sebagai objek penelitian yang kemudian dibawa dari konteks daerah menuju ruang diskusi akademik internasional.

Bukan Sekadar Memperkenalkan Palembang

Penelitian Rudianto tidak sekadar berbicara tentang bagaimana memperkenalkan Palembang melalui media digital.

Kajian tersebut juga mempertanyakan sejauh mana komunikasi digital pemerintah dapat menghasilkan dampak yang lebih konkret.

Menurut kerangka penelitian yang dipaparkan, komunikasi digital perlu menghubungkan visibility dengan keterlibatan publik, umpan balik, akses pasar dan hasil yang dapat diukur.

Pendekatan itu menempatkan komunikasi digital sebagai bagian dari proses yang lebih panjang. Pemerintah tidak hanya menyampaikan informasi mengenai produk dan potensi daerah, tetapi juga perlu memahami audiens, membangun interaksi dan mengukur hasil komunikasi.

Dengan membawa penelitian tersebut ke Hanoi, Rudianto menjadikan Palembang sebagai konteks lokal dalam pembahasan mengenai komunikasi digital, potensi ekonomi daerah, identitas budaya dan city branding.

Dari kampus UIN Raden Fatah Palembang, kajian tersebut kemudian dipresentasikan dalam forum akademik internasional di Vietnam.

Di akhir presentasinya, Rudianto menyampaikan pesan mengenai arah masa depan digital public relations:

“The future of digital PR lies not only in making local economic potential visible, but in connecting visibility with meaningful engagement and measurable outcomes.”

Bagi Rudianto, Palembang bukan hanya tempat lahirnya gagasan penelitian. Kota tersebut juga menjadi bagian dari gagasan yang dibawanya ke panggung akademik internasional.

Rudianto Widodo merupakan akademisi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang.

*(Adi/Metro)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *