Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Palembang

Replanting Jadi Titik Balik, Produktivitas Sawit Sumsel Diproyeksi Melonjak Signifikan

Logo Media Palembang Terkini
8
×

Replanting Jadi Titik Balik, Produktivitas Sawit Sumsel Diproyeksi Melonjak Signifikan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Palembang,—Palembangterkini.com Kamis (16/4/2026) — Forum VI Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Sumatera Selatan menegaskan pentingnya percepatan program peremajaan sawit rakyat (replanting) sebagai kunci peningkatan produktivitas sektor perkebunan di daerah. Melalui langkah ini, produksi sawit dinilai berpeluang meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Aryaduta Palembang itu dihadiri Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Ketua GAPKI Sumsel Alex Sugiarto, serta sekitar 600 peserta dari kalangan pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan.

Example 300x600

Gubernur Herman Deru menilai forum tersebut tidak hanya menjadi ruang diskusi strategis bagi industri sawit, tetapi juga memberikan efek ekonomi langsung bagi daerah.

“Pergerakan ekonomi terasa dari kegiatan ini, mulai dari sektor perhotelan hingga kuliner. Ini menunjukkan adanya dampak berganda,” ujar Herman Deru.

Ia menegaskan, Sumatera Selatan memiliki posisi penting dalam industri sawit nasional, dengan sekitar 9 hingga 10 persen wilayahnya merupakan areal perkebunan kelapa sawit.

Menurut dia, tantangan utama dalam program replanting selama ini terletak pada lamanya masa tunggu hingga tanaman kembali produktif. Petani, kata dia, umumnya harus menunggu hingga empat tahun untuk dapat kembali panen.

Namun, perkembangan teknologi budidaya dinilai mulai memberikan harapan baru. Herman Deru menyebutkan adanya temuan yang memungkinkan tanaman sawit mulai berbuah dalam waktu lebih singkat.

“Ada indikasi dalam waktu sekitar 24 bulan tanaman sudah bisa berproduksi. Ini perlu dibahas bersama agar percepatan replanting bisa benar-benar terwujud,” katanya.

Sementara itu, Ketua GAPKI Sumsel Alex Sugiarto mengatakan forum ini menjadi wadah pembahasan menyeluruh terkait tata kelola sawit berkelanjutan. Selain diskusi, kegiatan juga diisi dengan seminar dan pameran industri.

Menurut Alex, di tengah tren kenaikan harga sawit, pelaku usaha masih menghadapi tekanan biaya produksi yang tinggi.

“Kenaikan harga pupuk hampir 30 persen dan meningkatnya biaya distribusi membuat margin usaha relatif stagnan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti faktor global, termasuk konflik internasional, yang turut memengaruhi rantai pasok dan distribusi komoditas sawit.

Berdasarkan data GAPKI Sumsel, luas perkebunan kelapa sawit di provinsi ini mencapai sekitar 1,3 juta hektare dengan produksi crude palm oil (CPO) sekitar 4 juta ton per tahun, atau rata-rata 3 ton per hektare.

Alex optimistis, jika program replanting berjalan optimal, produktivitas sawit dapat meningkat hingga dua kali lipat.

“Produksi berpotensi naik menjadi 6 hingga 7 juta ton. Namun, masih ada kendala seperti perizinan dan persoalan teknis di lapangan yang perlu diselesaikan secara bersama,” katanya. (Adi)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *