Palembang — Palembangterkini.com Di sudut Kota Palembang yang kerap bersinggungan dengan persoalan banjir dan suhu yang semakin tak bersahabat, sebuah gerakan kecil mulai ditanam—secara harfiah dan maknawi.
Sabtu pagi, 11 April 2026, kawasan Kolam Retensi Harafuk di Kelurahan Sungai Buah, Kecamatan Ilir Timur II, tampak lebih hidup dari biasanya. Warga berkumpul, bukan sekadar menghadiri seremoni, melainkan menjadi bagian dari sebuah langkah kolektif menghadapi perubahan iklim yang kian nyata.
Launching Kampung Iklim yang digagas oleh Yayasan Bantuan Hukum Sumsel Berkeadilan (YBH SSB) menjadi titik awal dari upaya membangun kesadaran—bahwa lingkungan bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.
Perwakilan Pemerintah Kota Palembang melalui Plt. Camat Ilir Timur II, Susanto Umar, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar simbolik. Kampung Iklim, menurutnya, adalah bentuk konkret dari gerakan berbasis masyarakat yang selaras dengan program “Palembang Peduli” serta inisiatif nasional Program Kampung Iklim (ProKlim).
Di wilayah RW 05 yang meliputi RT 10, RT 15, dan RT 17, potensi itu sebenarnya sudah lama ada. Kolam retensi yang selama ini lebih dikenal sebagai pengendali banjir, kini mulai dilihat dari perspektif yang lebih luas—sebagai ruang hidup yang bisa ditata, dihijaukan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Satu per satu bibit tanaman ditanam hari itu. Nangka, pisang, pinang, hingga mentua menjadi simbol harapan—bahwa dari tanah yang dirawat, akan tumbuh manfaat, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi ekonomi warga.
Namun, yang ditanam bukan hanya pohon. Ada kesadaran yang perlahan disemai.
Hendi, penggiat lingkungan dari Komunitas Pro Iklim Palembang, mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana jauh. Banjir yang datang lebih sering, panas yang terasa lebih menyengat—semuanya adalah sinyal yang tak bisa diabaikan.
Selama ini, kata dia, masyarakat kerap menempatkan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Padahal, ada ruang refleksi yang perlu diisi: sejauh mana peran individu dalam menjaga lingkungan?
Dari kebiasaan sederhana seperti menanam pohon, mengelola sampah, hingga menjaga saluran air, perubahan besar justru bisa dimulai dari hal kecil yang konsisten.
Menariknya, pesan itu tidak hanya disampaikan melalui pendekatan modern, tetapi juga ditarik jauh ke belakang—ke masa kejayaan Sriwijaya. Hendi mengutip nilai kearifan lokal yang diwariskan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa: hubungan manusia dan alam adalah timbal balik. Ketika alam dijaga, kesejahteraan akan mengikuti.
Di sisi lain, dukungan komunitas juga menjadi penguat. Komunitas Pro Iklim Palembang bahkan berkomitmen menyediakan bibit tanaman secara gratis, sebagai bentuk dorongan nyata agar gerakan ini tidak berhenti di seremoni.
Ketua Pelaksana, Iqbal, menyadari bahwa keberhasilan Kampung Iklim tidak diukur dari hari peluncuran, melainkan dari keberlanjutan gerakan. Harapannya sederhana namun strategis: menjadikan Sungai Buah sebagai model yang bisa direplikasi di wilayah lain.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat, H. Zuhri Lubis. Ia melihat selama ini warga sebenarnya telah bergerak secara mandiri, meski belum terorganisir. Kehadiran program ini, menurutnya, menjadi semacam “pengikat” yang membuat gerakan masyarakat lebih terarah dan berdampak.
Ada satu hal penting yang ia garis bawahi—masyarakat butuh bukti, bukan sekadar imbauan. Ketika tanaman mulai berbuah, ketika lingkungan terasa lebih sejuk dan tertata, maka partisipasi akan tumbuh dengan sendirinya.
Di Sungai Buah, Kampung Iklim bukan hanya tentang program.
Ia adalah narasi tentang perubahan—yang dimulai dari kesadaran, tumbuh melalui kolaborasi, dan diharapkan berakar menjadi budaya. (Adi)


















